Kisah Ayah Bangsa; Buya Hamka

KISAH AYAH BANGSA; BUYA HAMKA


Judul               : Ayah… (Kisah Buya Hamka)
Penulis             : Irfan Hamka
Penerbit           : Republika
Edisi                : IV, November 2013
Deskripsi         : Xxviii + 323 halaman


Irfan Hamka putera kelima dari dua belas bersaudara. Irfan berkumpul selama 33 tahun dengan Buya. Irfan mengingat kisah ayahnya sejak usia 5 tahun. Irfan menuliskan buku ini dibantu saudara-saudaranya.
Buku terbitan Republika ini mengulas kisah Buya Hamka dari perspektif dan pengalaman yang berbeda. Mengenangnya sebagai manusia yang dicintai istri, anak-anak, keluarga, murid-murid, dan sahabat-sahabatnya. Sepuluh bagian buku ini menyuguhkan kenangan, pengalaman luar biasa yang mungkin tidak ditemui pada buku tentang Buya Hamka lain.
Tiga Nasihat Hamka yang Terkenal
Tiga nasihat Buya mengawali buku ini. Pertama, Nasihat bagi Rumah Tangga untuk saling menyayangi. Kedua, Nasihat bagi Tetangga untuk ber da’wah bilhal, memberi contoh teladan, perbuatan, atau sikap (hal. 8-9). Ketiga, Nasihat untuk Pembohong. Tiga syarat pembohong; bermental baja, tidak lupa kebohongannya, dan menyiapkan bahan berbohongnya untuk melindungi kebohongan pertama.

Ayahku Seorang Pejuang dan Guru Segalanya
            Selanjutnya pembaca diajak mengenal Buya sebagai pejuang, pegawai negeri, guru ngaji dan silat. Buya berpindah ke Jakarta menjadi pegawai Departemen Agama dan tinggal di Gang Toa Hong, berbagai etnis keturunan tinggal di sana.
Buya guru silat dan sholat bagi anak-anaknya (hal 48 s.d. 54). Buya juga seorang yang kuat dalam hal fisik dan pendirian dalam hal kaidah. Tidak bergeming saat ditawarkan jabatan Dubes Arab Saudi dan Mayjen Tituler. Buya juga kuat Tadarus selama berjam-jam bahkan lebih setelah Ummi wafat. Buya seorang Sufi yang istiqamah mengadakan pengajian Tasawuf Malam Selasa.

Ayah Berdamai dengan Jin dan Menyayangi Si Kuning
“Ritual” Buya mengajak Innyiak Batungkek, jin di rumah Buya hidup damai bersama dan tidak mengganggu mereka dan kasih sayangnya kepada hewan peliharaan yang setia, Si Kuning kucingnya juga menjadi bumbu sedap sisi lain seorang Buya sekaligus bukti betapa Buya seorang penyayang kepada semua makhluk ciptaanNya.

Ayah, Ummi dan Irfan Naik Haji, dan Perjalanan Maut
            Desember 1967, Buya, Umi, dan Irfan naik haji hadiah Jendral Soeharto. Mereka selamat atas dua kejadian luar biasa. Pertama, dikejar angin topan gurun pasir yang dahsyat. Kedua, Umar (sopir) tertidur saat menyetir mobil. Irfan juga bercerita kisah cintanya dengan Putri Nadya, putri Syekh tempat Buya dan Irfan mukim selama haji (hal. 79-154)

Ayah dan Ummi, Teman Hidupnya
Pengisahan Ummi tidak terlalu mementingkan aspek kronologis/sistematika peristiwa. Kisah Ummi ditulis mengikuti suasana hati Irfan dengan rasa kagum, sayang, rindu dendam menepuk-nepuk jiwa dan sekaligus rasa ingin menangis dalam pelukan hangat Umminya (hal. 184). Ummi pribadi yang sabar, suka menolong dan gemar bersilaturrahi.

Buya Mendapat Fitnah
            Buya menulis Tafsir Al-Azhar saat di penjara. Buya dipenjara 2,5 tahun karena Soekano. Buya juga difitnah Pramoedya dan M. Yamin. Tetapi Buya memaafkan mereka (hal. 255-263).

Akhir Buku
Bagian sepuluh mengisahkan bagaimana Buya Wafat. Bagian yang penuh perasaan haru hormat saat pemakaman.
Irfan Hamka terkadang menceritakan hal-hal dari sudut pandangnya yang tidak terdapat keterlibatan Buya secara langsung dan beberapa kali narsis mengisahkan cintanya. Namun, buku luar biasa ini wajib dipelajari dan diteladani. Kisah Buya yang pekerja keras, pembelajar, pemaaf, dan tegas dalam akidahnya.
                  


           
           



           
             







Komentar